Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh!
Hi, blog.
Kapan terakhir kali gue nulis di blog ini? saking lamanya gue lupa kapan. Dan sekarang gue bersyukur Alhamdulillah, akhirnya laptop lama sudah tergantikan dengan laptop baru! Biar bagaimanapun gue tetep kangen sama laptop gue yang lama, banyak kengan yang disimpan disitu. Mulai dari data-data sekolah gue dulu yang seabrek dari bikin makalah sampe file-file penting lainnya, selain itu foto-foto manis asem pahit gue selama SMA. Makanya kalo kangen, kadang gue iseng-iseng buka facebook terus liat album foto sambil nyengir-nyengir sendiri haha. Ah andai semua data D gue di backup dulu.... tapi takdir berkata lain.
Allah punya rencana lain dibalik semuanya, mungkin kemarin adalah peringatan buat gue biar bisa menghargai suatu barang, biar gak seenak sendiri semaunya ngegunain laptop, biar sadar kalo dia juga butuh istirahat. Mungkin kalo dia bisa bicara, dia bakal teriakin gue dari monitor, GUE CAPEK BUTUH ISTIRAHAT, MATIIN DONG! SEMALEMAN SUNTUK SELALU ON LAPTOP! Ah laptop maaaaf . Lebay.
So jadi post kali ini sedikit random, mau ngeshare aja tugas di kampus, biar gak ilang jadi gue share di blog deh haha, tapi sebelumnya gue mau ngasih tau kalo ada (kalo) yang kebetulan tiba-tiba lewat di blog gue, setelah baca ini merasa jijik gue saranin langsung tutup laptop aja yah biar gak makin parah. Soalnya gue aja ngerjain tugas ini sempet rada mual sama bahasanya super gabut gajelas, dari pada tugas gue gak kelar yakan yauda deh.
Diluar
Perkiraanku
Bunyi
alarm membangunkanku lebih awal dipagi ini. Rasanya terlalu pagi untukku
beranjak dari kasur ini, kepalaku terasa berat untuk pisah jauh dari bantal
yang menemaniku tiap malam. Ditambah dinginnnya pagi ini yang semakin berat
untukku beranjak dari kasur super nyaman ini. Saat itu aku teringat bahwa akan
ada hari yang sangat berbahagia bagi temanku yang akan melangsungkan akad
nikahnya hari ini. Selain itu suara azan yang berkumandang menjadi sebuah
alasan yang kuat untukku beranjak dari kasur ini, tiba saatnya untuk salat
Subuh dan aku mulai mempersiapkan diri dan pergi ke kamar mandi.
Aku
bersyukur, Allah masih memberikan kepadaku nikmat-Nya yang sungguh luar biasa.
Jumat ini akan menjadi hari yang menyenangkan. Bukan hanya aku merasa bahagia
karena hari ini adalah hari pernikahan teman lamaku, aku juga akan bertemu
dengan para mahasiswa di tempat kampusku mengajar.
Setelah
semua selesai, aku siap untuk jalan. Dengan perlahan aku mulai memacu motor
satriaku, hari ini aku putuskan untuk mengajar di Uhamka terlebih dahulu dan
setelah itu baru aku menghadiri acara pernikahan temanku.
Sampailah
aku dikampus itu, suasananya tidak berubah tetap sama seperti hari-hari
kemarin. Tak lupa aku menyapa tukang parkir yang setia duduk di samping pos satpam
disetiap paginya dan membagikan kertas semacam karcis sebagai tanda masuk. Ya
ini adalah kampus Uhamka, tempat yang membuatku nyaman, bisa bertemu dan
mengajar dengan para mahasiswa. Bertemu mereka, sama dengan menghilangkan rasa
stress yang ada dikepalaku. Sehari saja tidak mengajar aku merasa ada bagian
dalam hidupku yang hilang, entah mereka seperti vitamin yang kalau sehari saja
aku lupa meminumnya tubuhku terasa lemas. Dan kalau aku meminumnya rutin ini
bisa membuat badanku fit dan segar kembali. Mereka alasan yang membuatku tetap
semangat untuk memberikan ilmu kepada mereka semua.
Jam
menunjukkan pukul 08.30. Jumat ini jadwalku mengajar berada di ruang kelas A.3.5.
Kupacu langkahku dan tetap memperhatikan setiap langkahku agar tidak
tergesa-gesa. Hari ini aku bersemangat sekali mengajar, dengan semangat aku
menyapa mahasiswaku semua dan mereka terlihat begitu berantusias. Hari ini ada
presentasi dan aku harus membimbing dan mengawasi jalannya presentasi kelompok
3. Semua mahasiswa terlihat bersemangat mengikuti jalannya presentasi tersebut.
Mata kuliah ini ditutup dengan sebuah pertanyaan yang dilontarkan dari kelompok
3 kepada mahasiswa yang nasibnya kurang berutung pagi ini karena harus menjawab
pertanyaan tersebut dengan benar dan tetap.
Hari
ini hampir saja aku lupa. Alhamdulillah, mengisi dua mata kuliah Bahasa
Indonesia sudah ku lalui tanpa hambatan yang berarti dan tanpa terasa hari
sudah semakin siang. Jam menunjukkan pukul 12.00 siang, ini berarti aku harus ke
masjid untuk melaksanankan kewajibanku yaitu salat Jumat.
Baiklah
sekarang aku siap untuk jalan, tanpa berpikir panjang aku langsung ke parkiran
motor, takut nanti temanku bisa menungguku terlalu lama. Kupacu motor satriaku
menuju ke tempat resepsi pernikahan temanku.
Sampailah
aku ditempat resepsi itu, rasa senang dan gembira melebur menjadi satu. Senang
karena melihat temanku Nana dan Riswan akhirnya menjalin tali pernikahan yang
sakral, secara keseluruhan pernikahan mereka berbalut nuansa putih, suci dan
terlihat megah. Tempat ini terlalu megah dan hiasan serba putih disetiap
sudutnya membuatku tak sadar bahwa dari tadi ada Riswan yang berdiri tepat
disamping pintu. Sebelumnya Riswan dan Nana adalah teman S-1 lamaku saat kuliah
dulu. Mereka bener-benar terlihat berbeda sekarang ini. Mataku tertuju lurus ke
arah mereka, rasanya aku tidak sabar untuk segera menjabat tangan teman lamaku
dan mengucapkan selamat atas pernikahan mereka.
Aku
tergesa-gesa ingin segera menyambut mereka, langkah demi langkah kususuri anak
tangga. Tetapi saat aku memijakkan langkahku yang ke tiga, sontak aku sangat
terkejut mendengar suara patahan high heels dari seorang wanita dan dengan
refleksnya aku menolongnya dan tidak akan membiarkan wanita itu terjatuh. Dia
memejamkan mata tanda rasa kagetnya dan sama halnya seperti aku yang terkejut
melihatnya terjatuh di anak tangga itu. Saat itu, aku lihat wajahnya yang begitu asing. Ya aku baru saja melihat wanita
itu dengan tahi lalatnya tepat dibawah bibir dan sambil memegangi tangan wanita
itu akibat terjatuh dari tangga tadi. Ia mulai membuka matanya dan bilang maaf
kepadaku. Aku membalas dengan senyuman.
Ternyata
wanita itu adalah sepupu Nana, namanya Rina Restu Valensia. Kejadian itu masih
terngiang di otakku. Kenapa hal ini bisa terjadi, dan siapa yang tahu kalau ada
wanita yang akan terjatuh tepat didepanku. Lalu aku beranjak pergi keparkiran
untuk mengambil motor satriaku. Kali ini motorku mati dan saat itu juga muncul
wanita denga tahi lalat tepat dibawah bibirnya, ya dia Rina, wanita yang ku
temui di anak tangga tadi ketika ia terjatuh. Sambil tersenyum dan ia mulai
membuka bibirnya lalu bilang terimakasih atas semua yang terjadi tadi. Saat itu
kita sempatkan waktu untuk berbincang-bincang. Dibalik pakaian yang serba putih
mulai dari baju, jilbab serta tasnya Rina merupakan sosok yang sangat manis
ditambah tahi lalat yang tepat berada dibawah bibirnya. Sepertinya aku mulai
tertarik dengan Rina.
Dan
pada saat itu, munculah mobil sedan Pios datang menghampiri kami berdua. Mataku
tertuju kearah bangku pengemudi. Rasa penasaran menghinggapi otakku untuk
berfikir kenapa mobil itu berhenti tepat diantara kami berdua yang sedang
berbincang-bincang. Rasa penasaran itu akhirnya terbayar dengan Rina menuju ke
mobil sedan itu, dan Rina bilang kepadaku bahwa orang yang ada di dalam mobil
sedan itu adalah tunangannya. Sosok yang berjas itu rupanya menjemput Rina, dan
akhirnya Rina pergi bersama dengan mobil sedan itu.
Apa
yang kurasa saat ini benar-benar tidak karuan. Apakah aku harus senang atau
bahagia karena hari ini aku bertemu dengan sosok Rina, atau sedih karena
mengetahui bahwa Rina kini sudah mempunyai tunangan. Rasanya aku ingin
cepat-cepat sampai rumah dan segera ku buang jauh-jauh kejadian yang telah
terjadi tadi siang. Aku mulai menyalakan lagu Geisha Lumpuhkanlah Ingatanku,
entah lagu ini sangat tepat sehingga aku terlarut dalam lagu itu, hingga
akhirnya aku mengulangi lagu itu sampai beberapa kali sambil melupakan semua
kejadian ditangga, diparkiran dan akhirnya Rina pergi bersama mobil sedan Pios
itu.
Sabtu
pagi aku mendapati sms dari Rina, isinya tentang acara pernikahannya yang akan
diselenggarakan nanti jam 9 malam. Betapa hatiku hancur mendapati sms tersebut
yang isinya adalah acara pernikahan Rina yang bener-benar akan dilangsungkan
malam nanti, tetapi dalam isi sms itu Rina memintaku untuk datang ke Cibubur
pagi ini dan menemuinya disebuah taman. Setelah mendapati sms dari Rina itu aku
langsung bergegas membersihkan badanku dan menuju kesana.
Sudah
satu jam aku menunggu kedatangan Rina ditaman ini. Waktu menunjukan pukul 8.45 tetapi
Rina tidak menunjukkan kedatangannya juga. Hingga aku putuskan untuk
meninggalkan tempat ini yang kosong tanpa kehadiran sosok Rina yang sesuai
dengan janji pada sms tadi malam. Ketika aku melangkahkan kakiku menuju ke
parkiran motor ada sosok yang memanggilku dari belakang, yaitu Rina. Rina
memberikanku kertas dan terlihat di matanya bahwa Rina sangat menyesal karena
telah membuatku menunggu terlalu lama.
Setelah
itu aku pulang kerumah. Kuputuskan untuk berdiam diri saja dirumah sambil
menenangkan pikiran, hari ini lebih baik aku dirumah saja sambil mendengarkan
musik, lagu itu lagi dan lagi, Geisha –
Lumpuhkanlah Ingatanku menjadi daftar lagu teratas yang mejadi sering kuputar.
Lagu yang menemaniku tiap malam, seakan lagu itu sangat cocok dengan apa yang
aku alami sekarang. Sambil mencoba melupakan ingatanku pada sosok wanita yang
kutemui awal pertama kali di resepsi pernikahan teman lamaku, mencoba membuang
semua ingatan-ingatan manis itu termasuk tadi pagi terakhir ku melihatnya
sambil memberikan kertas berwarna kuning itu. Dalam hati aku bingung apa yang
harus aku lakukan, nanti malam adalah hari pernikahan Rina. Apakah aku harus
menghadiri acara pernikahannya, atau aku harus tetap berada dikamarku.
Handphoneku
bergetar dan berdering dengan lagu ST 12 Cinta Tak Harus Memiliki. Tetapi aku
tetap saja tidak menghiraukannya tanpa melihat kearah handphone itu kembali.
Kuputar lagu Geisha itu dengan keras hingga akhirnya perlahan aku tertidur
pulas ditemani lagu itu sebagai pengantar tidurku.
Keesokan
paginya aku melihat terdapat sebuah sms dari Rina di handphoneku, intinya ia
mencemaskan dan sangat berharap sekali aku datang pada malam pernikahannya itu.
Bagaimanapun hari ini aku harus pergi ke kampus untuk mengajar. Setelah semua
selasai aku siap memacu motor satriaku, tetapi ada seseorang yang memanggilku
dari belakang dengan suara sangat kencang. Sepertinya aku mengenali suara itu,
saat itu perlahan aku menurunkan kecepatan gas dan melepas helm. Ternyata dia
temanku Nana, aku yakin sekali pasti ada suatu hal penting yang ingin
disampaikan Nana kepadaku hingga pagi–pagi sekali ia datang kerumahku.
Tanpa
perlu lama-lama Nana langsung menarikku sambil memberikanku sebuah jas hitam
lengakap dengan peci hitam itu. Dalam hati aku sangat kaget sekali, untuk apa
Nana datang sepagi ini kerumahku dan memberikanku sebuah jas dan paci hitam
ini. Aku ngotot tidak akan mengikuti perintah Nana untuk menggenakan jas dan
peci ini, aku harus pergi mengajar, aku harus kekampus sekarang juga. Tapi
kedua mata Nana seakan menuntutku untuk tetap mau mengikuti perintahnya untuk
menggunakan apa yang disuruhnya. Ia menarikku pergi kerumahnya. Sepanjang jalan
Nana hanya memberi penjelasan singkat. Lalu aku diboncengi oleh Nana dan ia
bersedia menyetir motorku untuk kali ini, sepertinya ada sesuatu yang ganjil
yang sengaja dirahasiakan oleh Nana.
Setelah
itu sampailah kami berdua dikediaman Nana. Nana turun dari motorku dan aku
merasa ini tidak wajar karena sebagai pria aku merasa tidak pantas diboncengi
oleh seorang Nana. Ternyata suasana pernikahan masih terasa kental disini.
Semalam Rina menyelenggarakan acara pernikannya di tempat ini. Aku tahu, aku
memang sengaja tidak menghadiri acara pernikahannya ini dan tempat ini adalah
sebuah bukti bahwa kini Rina sudah menjadi milik orang lain.
Nana
memberi selembar surat untukku yang bertuliskan “Aku Mau yang Menjadi Imamku
adalah Ahmad Hidayatullah”. Jujur aku bingung dengan Nana kenapa surat putih
ini diberikan kepadaku dan aku bingung kenapa dalam surat itu terdapat namaku.
Aku bertanya kepada Nana, sebenarnya ini ada apa, kenapa suasana menjadi haru
seperti ini. Nana kemudian menjelaskan, bahwa ia menemukan surat ini dari
tangan Rina langsung.
Mendengar
penjelasan ini aku sedikit tidak percaya. Apakah Nana sedang bercanda kepadaku
pagi ini, tapi dari sorot matanya terlihat jelas bahwa Nana kali ini tidak
main-main, ia serius dengan apa yang diucapkannya barusan. Nana sambil
merangkul lenganku dan mengatakan kepadaku untuk siap menjadi imam bagi Rina. Aku
harus siap dan mulai mengikhlaskan semua yang sudah terjadi karena tadir berkata
lain. Hari ini otakku mulai dilanda pusing yang tidak karuan, pikiranku entah
kemana-mana, badanku seperti tertimpa batu kali besar dan tajam dan mengimpit
dan hatiku bercampur setengah tidak percaya bahwa ini benar-benar sudah
terjadi. Aku mengucapkan Bismillah, sambil menguatkan diri dan tangan Nana
masih merangkul lenganku, aku sekarang tahu persis kenapa Nana memberiku jas
dan peci hitam ini, karena memang akulah yang menjadi imam Rina saat ini. Aku
menguatkan diri untuk menggambil napas
sedalam dalamnya dan menghembusknannya. Aku megucap empat takbir. Takbir
pertama, tentang Rina, sosok wanita yang pertama kali aku temui ditempat ini,
sosok wanita yang akan tetap sama dengan tanda tahi lalatnya persis dibawah
bibirnya. Takbir kedua, tentang Ahmad Dai. Takbir ketiga, mulai melupakan semua
kejadian tentang pertama kali aku bertemu dengannya, kejadian sms malam itu.
Dan takbir keempat, adalah sebuah kecupan.
Tanpa
sadar aku menyandarkan kepalaku tepat disamping nisannya. Masih tidak percaya
kenapa Rina begitu cepat pergi. Hanya bisa memandangi nisannya yang
bertuliskan, lahir : 28 Mei 1990 dan Wafat : 19 April 2013. Diumurnya yang
belia ia harus meninggalkan orang-orang yang sangat sayang kepadanya. Apalagi
semalam adalah hari bahagianya.
Rupanya
Nana dan Rina menungguku tengah malam itu dibalkon rumah, Rina membatalkan
pernikahnya dengan sosok pria yang kutemui ditaman itu sambil membawa mobil sedan
Piosnya dan menjemput Rina pulang. Pembatalan perikahnnya itu karena satu
sebab, Rani hanya ingin akulah yang menjadi imamnya . Karena aku tak datang ke
acara prasmanannya semalam, Rani merasa kecewa dan mengurung diri dikamarnya
sambil memegang kertas itu dan bertuliskan “Aku Mau yang Menjadi Imamku adalah
Ahmad Hidayatullah”. Begitulah penjelasan dari Nana saat ia membuka kamar tidur
Rina dan melihat Rina tergeletak di lantai sambil memegang kertas ini.
Bersandar
di nisan itu membuatku lupa dan akhirnya aku tertidur disamping nisan Rina,
membayangkan dan menyesali kenapa aku tidak menghadiri acara pernikahannya dan
aku malah berdiam diri dirumah hingga ketiduran sampai esok paginya.
Sudah
berapa lama aku tertidur dikasur ini, musik Geisha masih mengalun sampai pagi
ini. Ini berarti aku memimpikan Rina yang sudah meninggal itu, kenapa sampai
hari ini aku masih belum bisa melupakannya. Aku harus mempersiapkan diri karena
hari ini aku harus mengajar. Mungkin dengan begitu aku bisa melupakan kejadian
tadi malam, Rina benar-benar sudah menjadi milik orang lain. Dan aku harus
menyadari itu seutuhnya.
Setelah
semua siap aku kembali mengambil motor satriaku dan mulai melaju perlahan. Dari
jauh terdengar suara orang yang memanggilku dan saat aku terhenti lagi-lagi aku
mengenali suara itu. Otakku mulai tidak karuan kembali,sepertinya aku pernah
mengalami ini sebelumnya, ya itu ada dalam mimpiku semalam, dan orang yang
meneriakkan dari belakang adalah Nana. Saat aku menoleh kebelang ternyata ia
benar Nana. Firasatku mulai buruk, ada apa sebenarnya pagi ini. Nana langsung
menyeretku dan menyuruhku menggunakan jas dan peci hitam itu lagi, hal ini sama
persis seperti yang ada dimimpiku semalam. Aku mengelak dan bilang ada apa ini
Na, jangan bilang ada sesatu hal yang kurang baik terjadi pada Rina. Sampai
akhirnya aku dibawa kerumah Nana dan disana masih terasa kental dengan suasana
resepsi pernikahan, semua sudah tertata rapi dan aku mulai bertanya dimana Rina?
Apakah dia baik-baik saja? Apakah aku yang menjadi imam terakhir untuknya?
Dari
kejauhan didepanku persis sosok wanita yang rasanya mukanya tidak asing lagi
bagiku, lama kelamaan mendekat dan akhirnya ia tersenyum kepadaku sambil
mengatakan, apakah kau siap Ahmad Dai?. Aku setengah tidak percaya ini jelas
berbeda dengan mimpiku yang semalam ataukah aku tidur lagi dan mulai bermimpi
lagi? Tapi kurasa ini nyata, sosok wanita dengan tanda khasnya yaitu tahi
lalat yang berada persis dibaawah bibirnya menyambut tanganku dan kembali
senyum kepadaku. Ia bilang ini bukan mimpi, “katanya kau siap menjadi imamku”,
Rina mengucapkan itu dengan jelas. Hingga tidak mungkin aku tidak mendengarnya.
Akupun membalasnya “baiklah Rani, aku siap” dengan suara jelas aku juga tidak
mau kalah darinya.
Hingga
saat itu kami resmi menjalin ikatan pernikahan yang sah. Sejak pertemuan
pertama kali ditempat ini mungkin inilah sebuah jalan indah yang disiapkan
Allah untukku bisa menjadi seorang imam untuk Rina. Dan di tempat inilah kami
mengucapkan perjanjian kita untuk hidup bersama selamanya sampai ada takdir
dari Allah yang dapat memisahkan kita. Kali ini aku tidak bermimpi, mengecup
keningnya dan melihat kedepan bahwa aku bersama Rina akan menjalani masa depan hidup
bersama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar