Sabtu, 28 Desember 2013

Hibernasi setahun!


Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh!

Hi, blog.
Kapan terakhir kali gue nulis di blog ini? saking lamanya gue lupa kapan. Dan sekarang gue bersyukur Alhamdulillah, akhirnya laptop lama sudah tergantikan dengan laptop baru! Biar bagaimanapun gue tetep kangen sama laptop gue yang lama, banyak kengan yang disimpan disitu. Mulai dari data-data sekolah gue dulu yang seabrek dari bikin makalah sampe file-file penting lainnya, selain itu foto-foto manis asem pahit gue selama SMA. Makanya kalo kangen, kadang gue iseng-iseng buka facebook terus liat album foto sambil nyengir-nyengir sendiri haha. Ah andai semua data D gue di backup dulu.... tapi takdir berkata lain.

Allah punya rencana lain dibalik semuanya, mungkin kemarin adalah peringatan buat gue biar bisa menghargai suatu barang, biar gak seenak sendiri semaunya ngegunain laptop, biar sadar kalo dia juga butuh istirahat. Mungkin kalo dia bisa bicara, dia bakal teriakin gue dari monitor, GUE CAPEK BUTUH ISTIRAHAT, MATIIN DONG! SEMALEMAN SUNTUK SELALU ON LAPTOP! Ah laptop maaaaf . Lebay.

So jadi post kali ini sedikit random, mau ngeshare aja tugas di kampus, biar gak ilang jadi gue share di blog deh haha, tapi sebelumnya gue mau ngasih tau kalo ada (kalo) yang kebetulan tiba-tiba lewat di blog gue, setelah baca ini merasa jijik gue saranin langsung tutup laptop aja yah biar gak makin parah. Soalnya gue aja ngerjain tugas ini sempet rada mual sama bahasanya super gabut gajelas, dari pada tugas gue gak kelar yakan yauda deh.

Diluar Perkiraanku

Bunyi alarm membangunkanku lebih awal dipagi ini. Rasanya terlalu pagi untukku beranjak dari kasur ini, kepalaku terasa berat untuk pisah jauh dari bantal yang menemaniku tiap malam. Ditambah dinginnnya pagi ini yang semakin berat untukku beranjak dari kasur super nyaman ini. Saat itu aku teringat bahwa akan ada hari yang sangat berbahagia bagi temanku yang akan melangsungkan akad nikahnya hari ini. Selain itu suara azan yang berkumandang menjadi sebuah alasan yang kuat untukku beranjak dari kasur ini, tiba saatnya untuk salat Subuh dan aku mulai mempersiapkan diri dan pergi ke kamar mandi.

Aku bersyukur, Allah masih memberikan kepadaku nikmat-Nya yang sungguh luar biasa. Jumat ini akan menjadi hari yang menyenangkan. Bukan hanya aku merasa bahagia karena hari ini adalah hari pernikahan teman lamaku, aku juga akan bertemu dengan para mahasiswa di tempat kampusku mengajar.

Setelah semua selesai, aku siap untuk jalan. Dengan perlahan aku mulai memacu motor satriaku, hari ini aku putuskan untuk mengajar di Uhamka terlebih dahulu dan setelah itu baru aku menghadiri acara pernikahan temanku.

Sampailah aku dikampus itu, suasananya tidak berubah tetap sama seperti hari-hari kemarin. Tak lupa aku menyapa tukang parkir yang setia duduk di samping pos satpam disetiap paginya dan membagikan kertas semacam karcis sebagai tanda masuk. Ya ini adalah kampus Uhamka, tempat yang membuatku nyaman, bisa bertemu dan mengajar dengan para mahasiswa. Bertemu mereka, sama dengan menghilangkan rasa stress yang ada dikepalaku. Sehari saja tidak mengajar aku merasa ada bagian dalam hidupku yang hilang, entah mereka seperti vitamin yang kalau sehari saja aku lupa meminumnya tubuhku terasa lemas. Dan kalau aku meminumnya rutin ini bisa membuat badanku fit dan segar kembali. Mereka alasan yang membuatku tetap semangat untuk memberikan ilmu kepada mereka semua.

Jam menunjukkan pukul 08.30. Jumat ini jadwalku mengajar berada di ruang kelas A.3.5. Kupacu langkahku dan tetap memperhatikan setiap langkahku agar tidak tergesa-gesa. Hari ini aku bersemangat sekali mengajar, dengan semangat aku menyapa mahasiswaku semua dan mereka terlihat begitu berantusias. Hari ini ada presentasi dan aku harus membimbing dan mengawasi jalannya presentasi kelompok 3. Semua mahasiswa terlihat bersemangat mengikuti jalannya presentasi tersebut. Mata kuliah ini ditutup dengan sebuah pertanyaan yang dilontarkan dari kelompok 3 kepada mahasiswa yang nasibnya kurang berutung pagi ini karena harus menjawab pertanyaan tersebut dengan benar dan tetap.

Hari ini hampir saja aku lupa. Alhamdulillah, mengisi dua mata kuliah Bahasa Indonesia sudah ku lalui tanpa hambatan yang berarti dan tanpa terasa hari sudah semakin siang. Jam menunjukkan pukul 12.00 siang, ini berarti aku harus ke masjid untuk melaksanankan kewajibanku yaitu salat Jumat.

Baiklah sekarang aku siap untuk jalan, tanpa berpikir panjang aku langsung ke parkiran motor, takut nanti temanku bisa menungguku terlalu lama. Kupacu motor satriaku menuju ke tempat resepsi pernikahan temanku.

Sampailah aku ditempat resepsi itu, rasa senang dan gembira melebur menjadi satu. Senang karena melihat temanku Nana dan Riswan akhirnya menjalin tali pernikahan yang sakral, secara keseluruhan pernikahan mereka berbalut nuansa putih, suci dan terlihat megah. Tempat ini terlalu megah dan hiasan serba putih disetiap sudutnya membuatku tak sadar bahwa dari tadi ada Riswan yang berdiri tepat disamping pintu. Sebelumnya Riswan dan Nana adalah teman S-1 lamaku saat kuliah dulu. Mereka bener-benar terlihat berbeda sekarang ini. Mataku tertuju lurus ke arah mereka, rasanya aku tidak sabar untuk segera menjabat tangan teman lamaku dan mengucapkan selamat atas pernikahan mereka.

Aku tergesa-gesa ingin segera menyambut mereka, langkah demi langkah kususuri anak tangga. Tetapi saat aku memijakkan langkahku yang ke tiga, sontak aku sangat terkejut mendengar suara patahan high heels dari seorang wanita dan dengan refleksnya aku menolongnya dan tidak akan membiarkan wanita itu terjatuh. Dia memejamkan mata tanda rasa kagetnya dan sama halnya seperti aku yang terkejut melihatnya terjatuh di anak tangga itu. Saat itu, aku lihat wajahnya yang  begitu asing. Ya aku baru saja melihat wanita itu dengan tahi lalatnya tepat dibawah bibir dan sambil memegangi tangan wanita itu akibat terjatuh dari tangga tadi. Ia mulai membuka matanya dan bilang maaf kepadaku. Aku membalas dengan senyuman.

Ternyata wanita itu adalah sepupu Nana, namanya Rina Restu Valensia. Kejadian itu masih terngiang di otakku. Kenapa hal ini bisa terjadi, dan siapa yang tahu kalau ada wanita yang akan terjatuh tepat didepanku. Lalu aku beranjak pergi keparkiran untuk mengambil motor satriaku. Kali ini motorku mati dan saat itu juga muncul wanita denga tahi lalat tepat dibawah bibirnya, ya dia Rina, wanita yang ku temui di anak tangga tadi ketika ia terjatuh. Sambil tersenyum dan ia mulai membuka bibirnya lalu bilang terimakasih atas semua yang terjadi tadi. Saat itu kita sempatkan waktu untuk berbincang-bincang. Dibalik pakaian yang serba putih mulai dari baju, jilbab serta tasnya Rina merupakan sosok yang sangat manis ditambah tahi lalat yang tepat berada dibawah bibirnya. Sepertinya aku mulai tertarik dengan Rina.

Dan pada saat itu, munculah mobil sedan Pios datang menghampiri kami berdua. Mataku tertuju kearah bangku pengemudi. Rasa penasaran menghinggapi otakku untuk berfikir kenapa mobil itu berhenti tepat diantara kami berdua yang sedang berbincang-bincang. Rasa penasaran itu akhirnya terbayar dengan Rina menuju ke mobil sedan itu, dan Rina bilang kepadaku bahwa orang yang ada di dalam mobil sedan itu adalah tunangannya. Sosok yang berjas itu rupanya menjemput Rina, dan akhirnya Rina pergi bersama dengan mobil sedan itu.

Apa yang kurasa saat ini benar-benar tidak karuan. Apakah aku harus senang atau bahagia karena hari ini aku bertemu dengan sosok Rina, atau sedih karena mengetahui bahwa Rina kini sudah mempunyai tunangan. Rasanya aku ingin cepat-cepat sampai rumah dan segera ku buang jauh-jauh kejadian yang telah terjadi tadi siang. Aku mulai menyalakan lagu Geisha Lumpuhkanlah Ingatanku, entah lagu ini sangat tepat sehingga aku terlarut dalam lagu itu, hingga akhirnya aku mengulangi lagu itu sampai beberapa kali sambil melupakan semua kejadian ditangga, diparkiran dan akhirnya Rina pergi bersama mobil sedan Pios itu.

Sabtu pagi aku mendapati sms dari Rina, isinya tentang acara pernikahannya yang akan diselenggarakan nanti jam 9 malam. Betapa hatiku hancur mendapati sms tersebut yang isinya adalah acara pernikahan Rina yang bener-benar akan dilangsungkan malam nanti, tetapi dalam isi sms itu Rina memintaku untuk datang ke Cibubur pagi ini dan menemuinya disebuah taman. Setelah mendapati sms dari Rina itu aku langsung bergegas membersihkan badanku dan menuju kesana.

Sudah satu jam aku menunggu kedatangan Rina ditaman ini. Waktu menunjukan pukul 8.45 tetapi Rina tidak menunjukkan kedatangannya juga. Hingga aku putuskan untuk meninggalkan tempat ini yang kosong tanpa kehadiran sosok Rina yang sesuai dengan janji pada sms tadi malam. Ketika aku melangkahkan kakiku menuju ke parkiran motor ada sosok yang memanggilku dari belakang, yaitu Rina. Rina memberikanku kertas dan terlihat di matanya bahwa Rina sangat menyesal karena telah membuatku menunggu terlalu lama.

Setelah itu aku pulang kerumah. Kuputuskan untuk berdiam diri saja dirumah sambil menenangkan pikiran, hari ini lebih baik aku dirumah saja sambil mendengarkan musik, lagu  itu lagi dan lagi, Geisha – Lumpuhkanlah Ingatanku menjadi daftar lagu teratas yang mejadi sering kuputar. Lagu yang menemaniku tiap malam, seakan lagu itu sangat cocok dengan apa yang aku alami sekarang. Sambil mencoba melupakan ingatanku pada sosok wanita yang kutemui awal pertama kali di resepsi pernikahan teman lamaku, mencoba membuang semua ingatan-ingatan manis itu termasuk tadi pagi terakhir ku melihatnya sambil memberikan kertas berwarna kuning itu. Dalam hati aku bingung apa yang harus aku lakukan, nanti malam adalah hari pernikahan Rina. Apakah aku harus menghadiri acara pernikahannya, atau aku harus tetap berada dikamarku.

Handphoneku bergetar dan berdering dengan lagu ST 12 Cinta Tak Harus Memiliki. Tetapi aku tetap saja tidak menghiraukannya tanpa melihat kearah handphone itu kembali. Kuputar lagu Geisha itu dengan keras hingga akhirnya perlahan aku tertidur pulas ditemani lagu itu sebagai pengantar tidurku.

Keesokan paginya aku melihat terdapat sebuah sms dari Rina di handphoneku, intinya ia mencemaskan dan sangat berharap sekali aku datang pada malam pernikahannya itu. Bagaimanapun hari ini aku harus pergi ke kampus untuk mengajar. Setelah semua selasai aku siap memacu motor satriaku, tetapi ada seseorang yang memanggilku dari belakang dengan suara sangat kencang. Sepertinya aku mengenali suara itu, saat itu perlahan aku menurunkan kecepatan gas dan melepas helm. Ternyata dia temanku Nana, aku yakin sekali pasti ada suatu hal penting yang ingin disampaikan Nana kepadaku hingga pagi–pagi sekali ia datang kerumahku.

Tanpa perlu lama-lama Nana langsung menarikku sambil memberikanku sebuah jas hitam lengakap dengan peci hitam itu. Dalam hati aku sangat kaget sekali, untuk apa Nana datang sepagi ini kerumahku dan memberikanku sebuah jas dan paci hitam ini. Aku ngotot tidak akan mengikuti perintah Nana untuk menggenakan jas dan peci ini, aku harus pergi mengajar, aku harus kekampus sekarang juga. Tapi kedua mata Nana seakan menuntutku untuk tetap mau mengikuti perintahnya untuk menggunakan apa yang disuruhnya. Ia menarikku pergi kerumahnya. Sepanjang jalan Nana hanya memberi penjelasan singkat. Lalu aku diboncengi oleh Nana dan ia bersedia menyetir motorku untuk kali ini, sepertinya ada sesuatu yang ganjil yang sengaja dirahasiakan oleh Nana.

Setelah itu sampailah kami berdua dikediaman Nana. Nana turun dari motorku dan aku merasa ini tidak wajar karena sebagai pria aku merasa tidak pantas diboncengi oleh seorang Nana. Ternyata suasana pernikahan masih terasa kental disini. Semalam Rina menyelenggarakan acara pernikannya di tempat ini. Aku tahu, aku memang sengaja tidak menghadiri acara pernikahannya ini dan tempat ini adalah sebuah bukti bahwa kini Rina sudah menjadi milik orang lain.

Nana memberi selembar surat untukku yang bertuliskan “Aku Mau yang Menjadi Imamku adalah Ahmad Hidayatullah”. Jujur aku bingung dengan Nana kenapa surat putih ini diberikan kepadaku dan aku bingung kenapa dalam surat itu terdapat namaku. Aku bertanya kepada Nana, sebenarnya ini ada apa, kenapa suasana menjadi haru seperti ini. Nana kemudian menjelaskan, bahwa ia menemukan surat ini dari tangan Rina langsung.

Mendengar penjelasan ini aku sedikit tidak percaya. Apakah Nana sedang bercanda kepadaku pagi ini, tapi dari sorot matanya terlihat jelas bahwa Nana kali ini tidak main-main, ia serius dengan apa yang diucapkannya barusan. Nana sambil merangkul lenganku dan mengatakan kepadaku untuk siap menjadi imam bagi Rina. Aku harus siap dan mulai mengikhlaskan semua yang sudah terjadi karena tadir berkata lain. Hari ini otakku mulai dilanda pusing yang tidak karuan, pikiranku entah kemana-mana, badanku seperti tertimpa batu kali besar dan tajam dan mengimpit dan hatiku bercampur setengah tidak percaya bahwa ini benar-benar sudah terjadi. Aku mengucapkan Bismillah, sambil menguatkan diri dan tangan Nana masih merangkul lenganku, aku sekarang tahu persis kenapa Nana memberiku jas dan peci hitam ini, karena memang akulah yang menjadi imam Rina saat ini. Aku menguatkan  diri untuk menggambil napas sedalam dalamnya dan menghembusknannya. Aku megucap empat takbir. Takbir pertama, tentang Rina, sosok wanita yang pertama kali aku temui ditempat ini, sosok wanita yang akan tetap sama dengan tanda tahi lalatnya persis dibawah bibirnya. Takbir kedua, tentang Ahmad Dai. Takbir ketiga, mulai melupakan semua kejadian tentang pertama kali aku bertemu dengannya, kejadian sms malam itu. Dan takbir keempat, adalah sebuah kecupan.

Tanpa sadar aku menyandarkan kepalaku tepat disamping nisannya. Masih tidak percaya kenapa Rina begitu cepat pergi. Hanya bisa memandangi nisannya yang bertuliskan, lahir : 28 Mei 1990 dan Wafat : 19 April 2013. Diumurnya yang belia ia harus meninggalkan orang-orang yang sangat sayang kepadanya. Apalagi semalam adalah hari bahagianya.

Rupanya Nana dan Rina menungguku tengah malam itu dibalkon rumah, Rina membatalkan pernikahnya dengan sosok pria yang kutemui ditaman itu sambil membawa mobil sedan Piosnya dan menjemput Rina pulang. Pembatalan perikahnnya itu karena satu sebab, Rani hanya ingin akulah yang menjadi imamnya . Karena aku tak datang ke acara prasmanannya semalam, Rani merasa kecewa dan mengurung diri dikamarnya sambil memegang kertas itu dan bertuliskan “Aku Mau yang Menjadi Imamku adalah Ahmad Hidayatullah”. Begitulah penjelasan dari Nana saat ia membuka kamar tidur Rina dan melihat Rina tergeletak di lantai sambil memegang kertas ini.

Bersandar di nisan itu membuatku lupa dan akhirnya aku tertidur disamping nisan Rina, membayangkan dan menyesali kenapa aku tidak menghadiri acara pernikahannya dan aku malah berdiam diri dirumah hingga ketiduran sampai esok paginya.

Sudah berapa lama aku tertidur dikasur ini, musik Geisha masih mengalun sampai pagi ini. Ini berarti aku memimpikan Rina yang sudah meninggal itu, kenapa sampai hari ini aku masih belum bisa melupakannya. Aku harus mempersiapkan diri karena hari ini aku harus mengajar. Mungkin dengan begitu aku bisa melupakan kejadian tadi malam, Rina benar-benar sudah menjadi milik orang lain. Dan aku harus menyadari itu seutuhnya.

Setelah semua siap aku kembali mengambil motor satriaku dan mulai melaju perlahan. Dari jauh terdengar suara orang yang memanggilku dan saat aku terhenti lagi-lagi aku mengenali suara itu. Otakku mulai tidak karuan kembali,sepertinya aku pernah mengalami ini sebelumnya, ya itu ada dalam mimpiku semalam, dan orang yang meneriakkan dari belakang adalah Nana. Saat aku menoleh kebelang ternyata ia benar Nana. Firasatku mulai buruk, ada apa sebenarnya pagi ini. Nana langsung menyeretku dan menyuruhku menggunakan jas dan peci hitam itu lagi, hal ini sama persis seperti yang ada dimimpiku semalam. Aku mengelak dan bilang ada apa ini Na, jangan bilang ada sesatu hal yang kurang baik terjadi pada Rina. Sampai akhirnya aku dibawa kerumah Nana dan disana masih terasa kental dengan suasana resepsi pernikahan, semua sudah tertata rapi dan aku mulai bertanya dimana Rina? Apakah dia baik-baik saja? Apakah aku yang menjadi imam terakhir untuknya?

Dari kejauhan didepanku persis sosok wanita yang rasanya mukanya tidak asing lagi bagiku, lama kelamaan mendekat dan akhirnya ia tersenyum kepadaku sambil mengatakan, apakah kau siap Ahmad Dai?. Aku setengah tidak percaya ini jelas berbeda dengan mimpiku yang semalam ataukah aku tidur lagi dan mulai bermimpi lagi? Tapi kurasa ini nyata, sosok wanita dengan tanda khasnya yaitu tahi lalat yang berada persis dibaawah bibirnya menyambut tanganku dan kembali senyum kepadaku. Ia bilang ini bukan mimpi, “katanya kau siap menjadi imamku”, Rina mengucapkan itu dengan jelas. Hingga tidak mungkin aku tidak mendengarnya. Akupun membalasnya “baiklah Rani, aku siap” dengan suara jelas aku juga tidak mau kalah darinya.

Hingga saat itu kami resmi menjalin ikatan pernikahan yang sah. Sejak pertemuan pertama kali ditempat ini mungkin inilah sebuah jalan indah yang disiapkan Allah untukku bisa menjadi seorang imam untuk Rina. Dan di tempat inilah kami mengucapkan perjanjian kita untuk hidup bersama selamanya sampai ada takdir dari Allah yang dapat memisahkan kita. Kali ini aku tidak bermimpi, mengecup keningnya dan melihat kedepan bahwa aku bersama Rina akan menjalani masa depan hidup bersama.